Persada Story
Hembusan angin fajar begitu mendamaikan hati setiap insan,
memberi kesejukan bagi insan yang terbangun di waktu nya, memberi kekuatan yang
luar biasa. Kekuatan apa pula yang Tuhan berikan kepada gadis kecil ini ??
Sehingga ia selalu tau apa yang aku maksud setiapa ku berkata-kata kepadanya.
Jadwal kelompok kami pagi ini tahfidzul Qur’an, pagi ini
tidak ada yang menjaili pembimbing kami J (tak ada Mba Isni yang membantuku
untuk menjahili Mba Asa, dan tak ada yang mengganguku saat setoran) seluruh
santri sibuk dengan Al-Qur’an nya masing-masing menghafal sesuai surat yang
mereka hafal.
Entah berawal dari apa, selalu saja percakapan ku dengan nya
bisa sampai dengan pembicaraan yang sama seperti dulu.
“Nafis ngumpulin ya persada story nya, sedikit saja gak
pa-pa kok” ujar Arsyi di tengah-tengah komat-kamit hafalannya.
“Hee, ya nanti ya” Jawabku sambil tersenyum bingung.
Ooh, semua percakapan mulai dari ini, ya mulai dari ini..
Sejak Arsyi menyuruhku untuk mengumpulkan persada story ini J
“Ngumpulin apa ya Po ??” Tanya ku.
“Terserah kamu” jawabnya “ Kayak nulis diary itu loh, tulis
apa aja yang kamu mau.” Jelas nya
“Ya tapi tuh bingung Po, mau nulis tentang apa” Potong ku
“Tulis aja tentang romance” sambil tersenyum jahil ia
mengatakannya.
“Eits ! Romance? “ Batinku “Engga lah kalo yang satu ini J”
“Hahahaa… Kenapa emang?”
“Hee, gimana ya? Takutnya nanti orang yang selama ini aku
ceritain ke kamu ketebak gimana?” jawabku sambil tersenyum
“Hedeeh, kamu tuh yaa. Ya nulisnya disamarin lah.”
“Ya tau Po, tapi tuh..”
“Orang yang baca
diary ku pun gak bakal ada yang tau, semua aku samarin. Seumpama aku nulis
tentang kamu yaa aku tulis DIA, KAMU tambah pula dengan MEREKA. Siapa pun
orangnya pasti aku samarin.” Jelas nya
“Iya tapi tuh takutnya bakal tetap kebaca Po, gimana yaa aku
tuh … “
“Arasseo[1][1]”Potong nya dengan bahasa korea
seperti biasanya.
“Emmmt, ya bisa dibilang begitu.” Jawabku sedikit kaget
(lagi-lagi dia tau)
Setiap tulisan-tulisan ku pun bisa ia baca dan ia
terjemahkan (mungkin) J tak seperti Mba Isni yang membaca
sepotong tulisanku tentangnya dan menebak salah satu nama, semua tebakanmu
salah ya mba Isni! *senyum puas* J. Ya walaupun dulu Popo menebak nama
yang sama.
“Haduuh kamu tuh ya J pantesan Mba Isni bilang begitu
sama kamu.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Hee J ya kalo tebakan kamu sama kayak Mba
Isni sih salah Po.” Ejek ku
“Engga kok, kan dulu aku udah bilang kalo bukan Micky
(nama yang disebutkan Mba Isni kepadaku, dan ini sengaja kusamarkan!) dulu tuh
ada anak yang tanya sama aku, ya asal aja aku jawab ke kamu tapi sebenarnya ada
satu nama yang aku tebak.”
“Eh? Siapa?” Tanya ku kaget, walau sebenarnya dulu ia juga
bilang begitu padaku.
“Rahasia” Jawabnya sambil nyengir “Body language,
mata, dan semua itu bisa di artiin fis” Jelas nya.
“Hem, ya lihat saja
nanti bener apa gak J” Ejek ku.
“Tahun depan kamu masih di sini? Oh, tergantung ya sama
pilihan kamu tahun ini.” Tanya dan jawabnya sendiri, hal yang selalu ia
lakukan.
“Hahahaa, ya itu tau. Ntar kalo aku bener-bener pindah dari
sini, aku bakalan ngasih tau ke kamu deh.” jawabku sambil nyengir
“Eh? Ntar kalo tebakan ku bener, aku bakalan ketawa
habis-habisan setelah itu juga.” Jawabnya antusias
“Hahahaa, ya silahkan tapi inget kalo aku bener-bener pindah dari sini yaa” Ingat ku kepadanya
“Hemm, oke. “ Jawabnya setuju
”Aku juga mau buat cerita tentang romance tapi gak bakal
nyingung sedikitpun tentang dia”
“Eh? Siapa sih Po?” Tanya ku (aku pun bahkan tak dapat
menebak seseorang yang Popo kagumi, yang jelas ia hanya memberikan clue bahwa “aku lebih suka sama orang yang lebih dewasa
dariku.”)
“Sampai sekarang kau
masih menyukainya?” Tanya nya kembali.
Aku hanya tersenyum sebagai jawabannya.
Komentar
Posting Komentar