Di Balik Sembirat Senyum Dina
Hembusannya
selalu saja menghadirkan kedamaian setiap insan ketika jendela bilik kamar
mereka terbuka. Tak jauh berbeda dengan udara di puncak gunung saat ini yang
membuatku semakin terpana akan keindahan alam ciptaan-Nya. Tak dapat dipungkiri
seberapa sering menapakkan kaki di puncak gunung, alam selalu saja memberi
kesan seakan ini untuk pengalaman mendaki pertama.
“Indah banget ya din” kata Dela “Kapan ya kita bisa naik gunung
bersama seperti ini lagi?”
“Iya din indah banget, mungkin ini bakal jadi kenangan yang tak
terlupakan saat masa kuliah ini del”
“Maaf ya din, kalau selama ini aku sering buat kamu sebel, marah.”
“Iya del, aku juga. Gak terasa ya sebulan lagi kita balik ke
halaman masing-masing”
“Semua begitu cepat din kayaknya baru kemarin kita beli
perlengkapan ospek” kenang Dela
“Hei kalian berdua kayak orang pacaran aja, liat pemandangannya
berdua-duaan gitu. Dasar jomblo” ejek Roy sambil menghampiri kami
“Iiih iih, bilang aja sih mau ngikut” sahut Dela
“Habisnya kalian duduk-duduk aja sih, tuh liat yang lain udah pada
ngeberesin tenda. Cepetan gih beresin tenda kalian” seru Roy
Tanpa disuruh dua kali, kami langsung beranjak dari tempat nyaman
saat itu. Setengah jam kemudian semua sudah siap untuk menuruni gunung, perjalanannya
memang tak seberat mendaki tapi kami tetap harus berhati-hati. Perjalanan
mendaki berahir disitu, kami melanjutkan dengan menaiki angkutan umum untuk
mengantar kami pulang, tak ada kesedihan hanya canda tawa yang menghiasi
perjalanan pulang karna kami berusaha mengingat betapa besar pejuangan mendaki
bersama untuk pertama kalinya.
Saat menunggu
hari wisuda, kami menghabiskannya dengan mengelilingi tempat yang pernah atau
belum pernah kami kunjungi selama kami tinggal di kota ini, kota yang kata
semua orang bilang Kota Istimewa. Sepertinya tidak ada bedanya dengan orang
yang tidak pernah tinggal disini ketika orang menanyakan tempat paling indah di
kota istimewa ini tapi kami tak bisa menjawabnya. Itulah alasan kami, kenapa
kami menghabiskannya untuk menyusuri dari awal tempat-tempat wisata didaerah
istimewa ini.
Tiba-tiba handphone ku berdering, telfon dari Dina.
“Halo Del,
sorry ya hari ini aku gak bisa ikut jalan”
“Kenapa Din?
Kamu sakit?” tanyaku antusias, karna tak biasanya Dina menolak ajakan kami.
“Engga din,
engga apa-apa cuman mau ngurus tiket pulang” jawab Dina dengan suara gemetar
“Loh kok udah
beli tiket aja kamu, kan masih dua minggu din wisuda kita” Sahutku
“Ada sesuatu
yang perlu kuurus disana del”
“Aku anter ya
din?” Tanya Dela
“Engga usah
del, udah ditemenin sama abangku kok”
“Serius din
udah sama abangmu?”
“Iya del,
santai aja lah.. Selama ada abangku aku aman kok” Canda Dina
“Ada-ada aja
kamu din, ya udah nanti kalau udah dapet tiket aku dikabarin ya” seru Dela
“Siap komandan”
canda Dina lagi
Walau tanpa senyum
Dina yang setiap waktu dapat mengalirkan kebahagiaan ditengah-tengah kami, perjalanan
touring kebersamaan ini harus tetap terlaksana dengan kecemasan yang terus
menghampiri, usaha berpikir positif itulah yang menjadi penenang untuk
melanjutkan perjalanan.
Hari ini Dina
masih belum mengirimkan pesan tentang pembelian tiketnya.
****
Komentar
Posting Komentar